Rabu, 14 Oktober 2020

 

LAPORAN REPORTASE ASPEK KEBUDAYAAN LOKAL PROVINSI BANTEN

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah

Studi Kebantenan

Dosen Pengampu : Dr. Hj Enggar Utari, M.Si.

 



 

                      

 

 

 

 

Disusun oleh:

Hesti Oktaviani (2224190057)

Kelas : 3B

 

 

 

 

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

2020

 

 

KEBUDAYAAN LOKAL BANTEN

            Banten adalah sebuah provinsi di Pulau Jawa, Indonesia. Provinsi ini dulunya merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat, namun dipisahkan sejak tahun 2000. Pusat pemerintahannya berada di Kota Serang.  Kebudayaan Provinsi Banten sangatlah unik. Beragam suku bangsa yang mendiami daerah Banten ini menjadikan kebudayaan Provinsi Banten semakin beragam.

Kebudayaan

            Istilah ”culture” (kebudayaan) berasal dari bahasa Latin yakni ”cultura” dari kata dasar ”colere” yang berarti ”berkembang tumbuh”. Secara umum pengertian ”kebudayaan” mengacu kepada kumpulan pengetahuan yang secara sosial yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Makna ini kontras dengan pengertian ”kebudayaan” sehari-hari yang hanya merujuk kepada bagian-bagian tertentu warisan sosial, yakni tradisi sopan santun dan kesenian (D’Andrade, 2000: 1999)

Unsur-Unsur Kebudayaan

            Unsur-unsur kebudayaan merupakan bagian suatu kebudayaan yang dapat digunakan sebagai suatu analisis tertentu. Menurut Kluchklon ada tujuh unsur kebudayaan universal, yaitu:

1.      Sistem Religi dan Upacara Keagamaan

2.      Sistem Organisasi Kemasyarakatan

3.      Sistem Pengetahuan

4.      Sistem Mata Pencaharian Hidup

5.      Sistem Teknologi dan Peralatan

6.      Bahasa

7.      Kesenian

Keberagaman Budaya Masyarakat Banten

            M.A. Tihami dalam tulisannya “Potret Budaya Dulu, Kini dan Nanti”, menyebutkan ada 25 seni yang ada di Banten yaitu : Seni debus surosowan, seni debus pusaka Banten, seni rudat, seni terbang gede, seni patingtung, seni wayang golek, seni saman, seni sulap-kebatinan, seni angklung buhun, seni beluk, seni wawacan syekh, seni mawalan, seni kasidahan, seni gambus, seni reog, seni calung, seni marhaban, seni dzikir mulud, seni terbang genjring, seni bendrong lesung, seni gacle, seni buka pintu, seni wayang kulit, seni tari wewe, dan seni adu bedug. Bahkan, dalam sumber lain, melengkapi apa yang telah disebutkan sebelumnya, di Banten ditemukan ada jenis-jenis tari yaitu : angklung buhun, debus, dzikir saman (dzikir mulud), kesenian buaya putih, pantung bambo, dan rampak bedug. Dalam pengamatan peneliti bukan hanya 25 seperti yang disebutkan MA. Tihami, tapi masih banyak lagi seni budaya Banten yang tidak disebutkan yaitu : debus, angklung buhun, dog-dog lojor, beluk, patingtung, rudat, dzikir saman, terbang gede, bedug, ubrug, qasidah, marhaba raqbi, gambang kromong, tari cokek, tayuban, yalail, rengkong, gemyung, wayang garing, seren taun, dan panjang mulud.

a.      Bahasa

      Penduduk Asli yang hidup di Provinsi Banten berbicara menggunakan dialek yang merupakan turunan dari bahasa Sunda Kuno. Dialek tersebut dikelompokkan sebagai bahasa kasar dalam bahasa Sunda modern, yang memiliki beberapa tingkatan dari tingkat halus sampai tingkat kasar (informal), yang pertama tercipta pada masa Kesultanan Mataram menguasai Priangan (bagian tenggara Provinsi Jawa Barat). Namun demikian, di Wilayah Banten Selatan Seperti Lebak dan Pandeglang menggunakan Bahasa Sunda Campuran, Sunda Kuno, Sunda Modern dan Bahasa Indonesia, di Serang dan Cilegon, bahasa Jawa Banten digunakan oleh etnik Jawa. Dan, di bagian utara Kota Tangerang, bahasa Indonesia dengan dialek Betawi juga digunakan oleh pendatang beretnis Betawi. Di samping bahasa Sunda, bahasa Jawa dan dialek Betawi, bahasa Indonesia juga digunakan terutama oleh pendatang dari bagian lain Indonesia.

b.      Senjata Tradisional


    Golok adalah senjata khas Banten. Jenis senjata ini sangat lekat dengan pendekar dan jawara Banten. Dahulu golok berfungsi sebagai senjata pertahanan diri, tetapi sekarang hanya sebagai alat seni bela diri. Salah satu golok khas banten yang terkenal yaitu golok ciomas. Golok yang hanya dibuat di daerah Ciomas ini terkenal karena ketajaman dan nilai mistisnya. Menurut cerita golok ciomas hanya dibuat pada bulan Maulud dan melalui tahapan ritual yang panjang.

      Golok juga tidak lepas dari masyarakat Adat Kasepuhan Banten Kidul dan suku Baduy. Orang baduy selalu menyelipkan golok kemana pun mereka pergi. Golok menjadi alat utama saat mereka berladang dan berburu di hutan. Selain itu, dalam tradisi masyarakat Banten juga dikenal senjata-senjata tradisional lainnya seperti keris, tombak, kujang, godam, parang, pedang, dan panah.

c.       Pakaian Adat


      Masyarakat Banten mengenal tiga jenis pakaian adat yang digunakan untuk upacara pengantin. Pakaian adat tersebut, antara lain pakaian pengantin Banten Kebesaran, Banten Lestari, dan Banten Gaya Tangerang. Setiap jenis pakaian adat ini memiliki ciri khas dan tujuan pemakaian tersendiri.

d.      Tarian Daerah

      Banten memiliki beragam tarian tradisional yang biasanya dipentaskan dalam berbagai upacara adat, penyambutan tamu, atau pentas budaya. Salah satu kesenian tari tradisional Banten yang cukup terkenal adalah tari Cokek yang berasal dari Tangerang. Tarian ini dibawakan oleh sepuluh penari wanita dan diiringi alat musik gambang kromong yang dimainkan oleh tujuh pemusik pria. Tari cokek merupakan kolaborasi budaya Sunda dan Cina dengan iringan musik Betawi.

      Selain itu, ada juga tari topeng. Tarian ini dilakukan oleh satu orang pria atau lebih sesuai dengan kebutuhan. Gerakkan tari ini tempak gemulai. Tarian topeng mengisahkan tentang seorang rasa yang balas dendam karena cintanya yang ditolak. Selain kedua jenis tarian tersebut masih ada lagi tarian Banten yang lainnya, diantaranya seperti tari Saman, tari Katuran, tari Cukin, tari Dala'il Wajun, dan tari Ketuk Tilu.

e.       Alat Musik


   Alat Musik tradisional banten digunakan untuk mengiringi berbagai kesenian tradisional dan upacara adat Banten. Masyarakat Baduy memiliki alat musik yang bernama angklung buhun atau yang lebih dikenal dengan angklung Baduy atau angklung kanekes.  Angklung buhun hanya boleh dimainkan pada saat upacara adat ngaseuk pere huma dibulan kapitu hingga kasalapan. Sebagai bagian dari masyarakat Sunda, masyarakat Adat Kasepuhan Banten Kidul  juga mengenal alat musik yang lain seperti angklung buhun, dog-dog lojor, rengkong, toleat, calung renteng, karinding, celempung, dan ketimpring. Berbagai alat musik ini dapat dinikmati pada saat acara perayaan serentaun.

f.       Seni Pertunjukan

1.      Debus

            Debus merupakan kesenian bela diri dari Banten. Kesenian ini diciptakan pada abad ke-16, pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1532-1570). Debus, suatu kesenian yang mempertunjukan kemampuan manusia yang luar biasa, kebal senjata tajam, kebal api, minum air keras, memasukan benda kedalam kelapa utuh, menggoreng telur di kepala dan lain-lain.

            Kesenian debus adalah kombinasi dari seni tari, seni suara, dan seni kabatinan yang bernuansa magis. Pertunjukan debus dilakukan dengan beberapa tahapan. Pertama-tama debus diawali dengan pembukaan (gembung), yaitu pembacaan salawat nabi dan dzikir kepada Allah swt. Selanjutnya beluk, yaitu lantunan zikir dengan suara keras, nyaring dan saling bersahutan diiringi tetabuhan. Bersamaan dengan itu dipertunjukkan atraksi-atraksi kekebalan tubuh seperti menyayat bagian tubuh, memakan kaca, tidur diatas papan berpaku, atau memasak dengan tungku diatas kepala yang diperagakan para pemainnya. Atraksi ini diakhiri dengan gemrung, yaitu permainan alat musik tetabuhan.

2.      Rampak Bedug

            Rampak Beduk merupakan sajian instrument berupa perkusi, yang ditingkahi suara bedug berbagai ukuran. Ada empat bedug diikat kain merah biru, yang dipukul oleh pemain yang berdiri di tengah. Di pinggirannya, kelompok musik menimpali dengan bedug berbagai ukuran.  Sesekali suara terdengar dari mulut para pemainnya, mirip suara musik tiup. Namun, tak ada sajian instrumen tiup. Yang terdengar, suara harmonis antara bedug dan para vokalis tradisi saling menyahut.  Seni Rampak Bedug dan kebiasaan penduduk berkeliling kampung sambil memukul bedug kala sahur di bulan puasa.  Yang kemudian dijadikan ajang untuk beradu keras memukul bedug. Alhasil terjadilah pertemuan antar mereka, saling beraduk ekuatan bedug.  Tari Rampak Beduk Banten dimainkan oleh secara masal.  Sekilas gerakannya mirip tarian dari daerah Aceh.

3.      Ubrug

            Ubrug adalah seni pertunjukkan teater rakyat, yang menampilkan cerita / lakon, lawakan, tarian dan lagu.  Masyarakat menyebut ubrug karena kesenian ini tampilnya dulu selalu menimbulkan keramaian yang luar biasa. Sebagian masyarakat memanggilnya pula dengan sebutan Topeng, karena dibagian awal pertunjukkan kata pula tarian pembuka, yang disebut sebagai topeng ubrug atau ronggen gubrug.  Lakon yang dipentaskan biasanya tergantung permintaan yang empunya hajat.  Berupa lakon jamanan baheula, babad atau legenda, atau juga cerita masakini, misalnya drama rumah tangga.  Pementasan diawali dengan pemberitahuan dari penabuh gamelan, untuk menarik perhatian penonton agar segera berkumpul, kemudian dari balik layar keluarlah beberapa orang penari wanita (Ronggeng) mempertunjukkan kebolehannya dalam menari. Pertunjukkan akan berakhir saat menjelang dinihari Shubuh.  Saat ini di Kabupaten Pandeglang atau Kota Serang sampai saat ini, kesenian Ubrug masih berkembang.  Pertunjukkan biasanya diselingi dengan dagelan / lawakan yang amat

4.      Rudat

            Rudat adalah kesenian tradisional khas Banten yang merupakan perpaduan unsur tari, syair shalawat, dan olah kanuragan yang berpadu dengan tabuhan terbang dan tepuk tangan. Rudat terdiri dari sejumlah musik perkusi yang dimainkan oleh setidaknya delapan orang penerbang (pemain musik ) yang mengiringi tujuh hingga dua belas penari.

5.      Tari Dzikir Saman Banten

            Dzikir Saman yang ada di Banten berbeda dengan Saman yang ada di Aceh, disini para pemainnya terdari dari laki-laki dengan membentuk lingkaran. Sambil berputar, sambil menyebutkan shalawat Nabi Muhammad SAW. Seni Dzikir Saman ini tidak diiringi dengan perangkat alat musik, hanya nyanyian dengan menyebut asma Allah, alok dan gerakan tubuh yang berputar-putar. Seni ini sudah ada sejak dahulu, biasanya dalam acara tertentu seperti Khol Syeh Abdul Khodir Jailani, Rasullan, dan acara keagamaan lainya.

g.      Rumah Adat

  Seni Arsitektur Sunda terlihat pada bantuk rumah dan perkampungan suku Badui dan Adat Kasepuhan Banten Kidul (Cisungsang). Rumah tradisionalnya berbentuk panggung yang dinamakan imah. Dari segi bentuk tidak terlihat berbeda antara rumah adat Baduy dengan rumah Adat Kasepuhan. Namun, dari segi bahan yang digunakan untuk pembuatannya terdapat perbedaan. Masyarakat Baduy masih memegang teguh adat istiadat sehingga kesederhanaan pada bentuk rumahnya masih sangat terlihat. Sebaliknya, rumah adat kasepuhan terlihat lebih modern karena sudah menggunakan unsur-unsur kebudayaan modern.

Upaya Pelestarian Budaya Banten

            Masyarakat dan kebudayaan di manapun selalu dalam keadaan berubah, sekalipun masyarakat dan kebudayaan primitif yang terisolasi jauh dari berbagai perhubungan dngan masyarakat yang lain. Perubahan ini, selain karena jumlah penduduk dan komposisinya , juga karena adanya difusi kebudayaan, penemuan- penemuan baru, khususnya teknologi dan inovasi.Difusi kebudayaan adalah persebaran unsur- unsur kebudayaan dari suatu tempat ke tempat lain di muka bumi, yang di bawa oleh kelompok- kelompok manusia yang bermigrasi.

            Dahulu kita bisa menyaksikan atraksi debus ini dibanyak wilayah banten, tapi sekarang atraksi debus hanya ada pada saat event – event tertentu. Jadi tidak setiap hari kita dapat melihat atraksi ini. Warisan budaya, yang makin lama makin tergerus oleh perubahan jaman. Kesadaran masyarakat untuk menjaga budaya lokal sekarang ini masih terbilang minim. Masyarakat lebih memilih budaya asing yang lebih praktis dan sesuai
dengan perkembangan zaman. Masyarakat Banten merupakan masyarakat yang mempunyai budaya ketimuran. Namun saat ini sudah mulai bercampur dengan budaya barat, terutama cara berpakaian pria dan wanitanya, juga mata pencaharian dan peralatan sehari- hari yang mereka gunakan. Hal tersebut karena sudah berkembangnya teknologi informasi di dunia, maka masyarakat banten berusaha untuk tidak tertinggal oleh zaman

            Budaya lokal juga dapat di sesuaikan dengan perkembangan zaman, asalkan masih tidak meningalkan ciri khas dari budaya tersebut. Pembelajaran tentang budaya, harus ditanamkan sejak dini. Namun sekarang ini banyak yang sudah tidak menganggap penting mempelajari budaya lokal. Padahal melalui pembelajaran budaya, kita dapat mengetahui pentingnya budaya lokal dalam membangun budaya bangsa serta bagaimana cara mengadaptasi budaya lokal di tengah perkembangan zaman.

            Keanekaragaman budaya daerah tersebut merupakan potensi sosial yang dapat membentuk karakter dan citra budaya tersendiri pada masing-masing daerah, serta merupakan bagian penting bagi pembentukan citra dan identitas budaya suatu daerah. Di samping itu, keanekaragaman merupakan kekayaan intelektual dan kultural sebagai bagian dari warisan budaya yang perlu dilestarikan. Seiring dengan peningkatan teknologi dan transformasi budaya ke arah kehidupan modern serta pengaruh globalisasi, warisan budaya dan nilai-nilai tradisional masyarakat adat tersebut menghadapi tantangan terhadap eksistensinya. Hal ini perlu dicermati karena warisan budaya dan nilai-nilai tradisional tersebut mengandung banyak kearifan lokal yang masih sangat relevan dengan kondisi saat ini, dan seharusnya dilestarikan, diadaptasi atau bahkan dikembangkan lebih jauh.

 

REFERENSI

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. 2009. Jelajah Pesona Wisata Banten. Banten : Dinas   Kebudayaan dan Pariwisata Banten

https://www.bantenprov.go.id/profil-provinsi/kebudayaan  diakses pada hari Minggu, 11   Oktober 2020.

Pemerintah Daerah Banten. 2012. Mozaik of Banten Indonesia. Banten : Wonderful Indonesia

Said, Hasani Ahmad. 2016. Islam Dan Budaya di Banten : Menelisik Tradisi Debus dan   Maulid. Jurnal Studi Agama dan Pemikiran. Vol 10 : 1.